Pulang Bersama Nabi

August 11, 2018

Ji’ranah. Sebuah desa, 26 km selatan Kota Makkah. Sepotong nama, yang mulanya diberikan kepada seorang wanita yang mengabdi, menjaga dan membersihkan sebuah masjid di desa tersebut. Masjid yang kemudian menjadi tempat miqot jama’ah haji.

Suatu ketika di Ji’ranah ada haru dan kecewa. Saat sebuah kebijakan Rasulullah yang tak begitu dipahami umat. Kebijaksanaan yang salah dimengerti itu sangat manusiawi sebenarnya. Saat itu seusai perang Hunain. Saat para sahabat nabi merasa telah berjuang dengan penuh totalitas. Terutama dari kaum Anshor, yang berperang di sisi Rasul dengan penuh kecintaan.

Kebijakan itu menyangkut harta rampasan perang. Saat itu orang-orang Quraisy  mendapat bagian lebih banyak. Kaum Anshor merasa hanya memperoleh sisa. Tidak sebanding dengan perjuangan mereka yang sepenuh jiwa. Sementara kaum Quraisy dan kabilah Arab itu lari tunggang langgang menghadapi serangan pasukan Malik bin Auf An-Nashry.

Kasak-kusuk sayup-sayup terdengar. Membesar. Dan bahkan mungkin akan memercikan api. “Demi Allah, Rasulullah shallallahu aalaihi wasallam telah bertemu kaumnya sendiri!” Kalimat kasak-kusuk yang penuh nada-nada minor.

Adalah Sa’d bin Ubadah datang menemui Sang Rasul dengan segenggam galau. Ingin segera ia sampaikan kegalauan dirasakan oleh sahabat Anshar. Perasaan yang sangat mengganjal namun mereka masih bisa menahan. Ada anggapan tak layak untuk disampaikan.

“Ya Rasulullah, kaum Anshar sedang galau. Ada perasaan yang mengganjal menyangkut pembagian harta rampasan perang. Engkau memberikan bagian yang teramat besar kepada kaummu sendiri. Pun jua pada kabilah Arab.  Sementara orang-orang Anshar tidak mendapat bagian apapun,” ungkap Sa’d bin Ubadah. Terdengar lugas namun tetap santun. Terasa ada kecewa tapi nilai akhlaq mencegahnya dari sikap yang merendahkan. Jauh dari amarah yang tak terkendali.

“Kamu sendiri bagaimana Sa’d?”

“Wahai Rasulullah, aku tidak punya pilihan lain, selain harus bersama kaumku,” jawab Sa’d sendu dan jujur. Tak ia sembunyikan bahwa dirinya juga kecewa.

Rasulullah kemudian mengumpulkan semua orang Anshar.

“Bukankah dulu aku datang dan kudapati kalian dalam kesesatan, lalu Allah berikan kalian petunjuk? Bukankah dulu saat aku datang kalian saling bertikai, lalu Allah menyatukan hati kalian? Bukankah dulu saat aku datang, kalian dalam keadaan miskin, lalu Allah mengayakan kalian?”

Kaum Anshar tentu saja membenarkan. Betapapun mereka kecewa, tapi tetap memilih diam seribu bahasa. Tanpa serangan balik. Tanpa suara, tanpa kata-kata. Tidak ada niat untuk adu argumentasi. Iman, Islam dan ihsan telah menjaga mereka. Sekalipun kecewa dan luka.

“Demi Allah, jika kalian mau kalian bisa mengatakan, ‘Engkau dulu datang kepada kami dalam keadaan didustakan, lalu kami membenarkan. Engkau dulu datang kepada kami dalam keadaan lemah, lalu kami menolongmu. Engkau dulu datang kepada kami dalam keadaan terusir, lalu kami memberikan tempat. Engkau dulu datang kepada kami dalam keadaan miskin, lalu kami yang menampungmu’, ” lanjut Rasulullah. Menggetarkan. Hening. Beberapa  meneteskan airmata.

“Apakah ada hasrat di hati kalian pada dunia?” tanya Rasulullah.

Semakin hening dan terdiam. Kalimat Rasulullah menusuk sisi jiwa terdalam. Jiwa yang sepenuh iman dalam keikhlasan.

“Padahal, dengan dunia itu aku hendak mengambil hati segolongan orang agar masuk Islam,” tambah Rasulullah.

Tentu saja para sahabat mulai paham. Sekalipun tetap diam.

“Sedangkan terkait keimanan kalian, aku sudah teramat percaya,” lanjut Rasulullah. Kalimat yang begitu dalam serta merta mengobati luka. Danau air mata yang menggenang mulai tertumpah.

“Apakah kalian tidak berkenan jika orang lain pergi membawa onta dan domba, sementara kalian pulang bersama Rasul Allah?”

Advertisements

Pesan Kebebasan Dari Rayap

May 24, 2018

Tahun-tahun yang begitu berat. Saat itu kaum muslimin pada masa awal harus mengalami pemboikotan selama tiga tahun. Itu terjadi menjelang hijrah Nabi ke Madinah.

Boikot itu, membuat keluarga Bani Hasyim diasingkan di Syi’ib Abu Thalib. Letaknya di kaki bukit Abu Qubays, bagian Mekkah sebelah timur. Berbentuk sebuah pelataran sempit yang dikelilingi dinding batu terjal lagi tinggi dan tidak dapat dipanjat. Orang hanya dapat masuk keluar dari sebelah barat melalui celah sempit setinggi kurang dari dua meter, yang hanya dapat dilewati unta dengan susah .

Nota Boikot  (shahifah) itu ditulis oleh Manshur bin Ikrimah bin Amir bin Hasyim. Isinya adalah:

1. Mereka tidak menikah dengan wanita-wanita dari Bani Hasyim dan Bani Abdul Muththalib.

2. Mereka tidak menikahkan putri-putri mereka dengan orang-orang Bani Hasyim dan Bani Abdul Muththalib.

3. Mereka tidak menjual sesuatu apa pun kepada Bani Hasyim dan Bani Abdul Muththalib.

4. Mereka tidak membeli sesuatu apa pun dari Bani Hasyim dan Bani Abdul Muththalib.

Namun bagaikan a blessing in disguise, derita yang demikian hebat itu telah meningkatkan “maqom” ruhani keluarga Bani Hashim.

Sampai kemudian saatnya tiba Suatu ketika Rasulullah SAW sedang tidur, beliau bermimpi. Lewat mimpi itu Allah memberitahukan kepada beliau, bahwa naskah undang-undang pemboikotan, yang digantungkan di dalam Ka’bah, telah rusak dan hancur dimakan rayap, kecuali kertas yang ada tulisan :

بِـاسْمِكَ اللّـهُمَّ

Atas nama Engkau, ya Allah !

Nabi SAW lalu memberitahukan hal tersebut kepada paman beliau yang tercinta, yaitu Abu Thalib. Ia sangat terkejut ketika mendengar apa yang beliau nyatakan. Lantas bertanya.

“Apakah Tuhanmu telah memberitahukan kepadamu tentang hal itu ?” tanyanya.

“Ya,” jawab Nabi.

“Sungguhkah perkataanmu itu ? Tidak berdustakah engkau kepadaku ?”

“Ya, demi Allah ! Sungguh dapat dibuktikan”, jawab Nabi.

Abu Thalib mendatangi para pembesar Quraisy.

“Demi Allah ! kami keluar dari Syi’ib kemari ini bukanlah untuk menyerahkan keponakan saya, dan bukanlah kami akan minta ampun kepadamu semua, tetapi kami akan memberitahukan kepada kalian akan suatu hal yang amat penting, yang barangkali dapat mendatangkan perdamaian antara kami dan kamu semua.

Muhammad telah menyampaikan suatu berita kepadaku, dan perkataannya itu disertai sumpah didepanku dan aku percaya, bahwa dia tidak akan berdusta kepadaku. Memang dia sejak kecil adalah seorang yang tidak pernah berdusta, sebagaimana kamu semua telah maklum.

Adapun perkataannya demikian :

“Tuhan telah menyuruh anai-anai (rayap) ke dalam Ka’bah, supaya memakan kertas yang berisi naskah undang-undang pemboikotan kalian terhadap kami. Lantaran itu sekarang surat (naskah) undang-undang pemboikotan itu telah rusak dan hancur dimakan anai-anai, kecuali kertas yang tertulis lafadh yang berbunyi : “Bismika Alloohumma !” Demikianlah kata Muhammad. Oleh sebab itu, marilah sekarang kita lihat naskah undang-undang itu untuk membuktikan perkataan Muhammad itu ! Jikalau perkataan Muhammad itu tidak benar, maka kami rela menyerahkan Muhammad kepada kamu semua, dan perbuatlah sekehendakmu kepadanya. Tetapi, jikalau perkataan Muhammad itu terbukti, maka hal itu benar-benar menunjukkan, bahwa undang-undang pemboikotan itu tidak diperkenankan oleh Tuhan sekalian alam, bahkan boleh jadi orang-orang yang membuatnya terkutuk dan dimurkai-Nya”.

Setelah semuanya menyaksikan apa yang terjadi di dalam Ka’bah, Abi Tholib berkata :

“Mengapa kamu semua senang mengepung dan memboikot kami ? Sedangkan perbuatan kamu yang demikian itu nyata-nyata menganiaya dan menyiksa kami yang akhirnya dapat pula memutuskan persaudaraan antara kami dan kamu semua ?”

Salah seorang dari mereka menjawab, “Abu Thalib ! Hal ini adalah karena sihir keponakanmu semata, dan tidak akan terjadi kalau tidak karena sihir itu”.

Mendengar jawaban mereka semacam itu, Abu Thalib tersenyum. Kemudian bersama-sama dengan orang-orang yang mengiringkannya memohon kepada Allah :

“Ya Allah ! Berilah kami pertolongan ~untuk mengalahkan~ orang-orang yang telah menganiaya kami dan memutuskan kasih sayang kami, dan yang telah menghalalkan barang yang diharamkan atas kami”.

Kini, mungkin sudah saatnya, kita menunggu rayap-rayap agar menggerogoti belenggu kolonialisme modernisme. Semoga

Bangsa Yang Tidak Pernah Ingkar

May 2, 2018

Judul di atas saya ambil dari Alquran Al-An’am 89 : qouman laisu biha bikaafiriin. Kalimat itu digunakan Alquran untuk menyebut “orang-orang yang telah Kami berikan :
1. Al kitab
2. Al hikmah
dan
3. Nubuwah

Jika orang-orang itu mengingkarinya, maka sesungguhnya Kami akan menyerahkannya kepada ‘bangsa yang sekali-kali tidak akan mengingkarinya‘.”

Siapakah “bangsa yang sekali-kali tidak akan mengingkari” tiga pedoman yang diberikan Tuhan itu?

Secara kontekstual sudah disebut sejak ayat 83 :

“Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.

Kemudian dilanjutkan dengan ayat 84 :

“Dan Kami telah menganugerahkan Ishak dan Ya’qub kepadanya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

Sudah banyak sekali yang mengungkap bahwa Nuswantara adalah keturunan Nuh dari jalur Yafid, maka berarti itu adalah juga tentang Nubuwah yang ada di Nuswantara ini.

Selanjutnya pada ayat 87 :
Dan Kami lebihkan derajat sebagian dari “bapak-bapak mereka, keturunan dan saudara-saudara mereka“. Dan Kami telah memilih mereka dan Kami menunjuki mereka ke jalan yang lurus.

Frase “Bapak-bapak mereka, keturunan dan saudara-saudara mereka” dalam khasanah Nuswantara disebut Leluhur.

Jadi mungkinkah “bangsa yang tidak pernah ingkar” itu adalah bangsa Nuswantara ?

Semoga

Dua Timur Dan Dua Barat

April 27, 2018

“Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu. Antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing.” (Q.S. Ar-Rahman:19-20)

Dalam sebagian besar kitab tafsir, para ulama sering menafsirkan bahwa adanya dua arus laut yang tidak bertemu. Hanya semata-mata laut dalam dunia manusia.

Namun jika dilihat konteks ayatnya, maka sangat jelas maksudnya bahwa itu adalah Lautan Di Dunia Jin Dan Dan Lautan Di Dunia Manusia. Konteks yang dimaksud adalah pada ayat 14 dan 15.

Ayat 14 : Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar

Ayat 15 dan Dia menciptakan jin dari nyala api tanpa asap

Karenanya ayat berikutnya yang bercerita tentang “dua kondisi” mestinya mengacu ke ayat 14 Dan 15 itu

Ayat 17 : Tuhan (yang memelihara) dua timur dan Tuhan (yang memelihara) dua barat mestinya adalah Timur di dunia Jin Dan Timur Di dunia Manusia. Begitu juga dengan dua Baratnya.

Menariknya jika kita lihat ayat selanjutnya. Bahwa keduanya juga mengeluarkan lukluk dan Marjan. So dengan demikian di dunia lain itu juga ada perhiasan.

Dalam tafsir Ibnu Katsir juga ada mengungkap pendapat berbeda dari Ibnu Jarir. Yang berbeda jikalau kita membuka terjemahan Depag atau tafsir yang umumnya dimaknai dua tempat matahari terbit.

Jadi kalau mau melihat konteks ayatnya, maka dengan gampang dikritik bahwa ayat-ayat itu berbicara tentang dua penciptaan Jin Dan Manusia.

Bahkan ada hadits, dimana Rasulullah menegur sahabat karena responnya tidak seperti respon para Jin ketika menerima Surat ini.

Wallahualam

Surat Pada Ibunda Kartini

April 27, 2018

Kepada Yth. Bunda Kartini

Puji syukur ananda panjatkan kehadirat ilahi robbi. Sholawat serta salam semoga tetap tercurah kepada Baginda Rasul, keluarga, sahabat dan pengikutnya yang selalu setia sebagaimana yang tampak pada keseluruhan hidup bunda.
Ananda berdoa dan terus berharap bahwa di sisi-Nya, bunda mendapatkan tempat yang terbaik dan utama sebagai balasan atas ketulusan bunda memperjuangkan makna ayat-ayat-Nya terutama tentang Minazh-Zhulumaati ilan Nuur. Ayat yang telah menginspirasi banyak orang tidak terkecuali ananda.
Ananda sadar bahwa jarak antara kita terbentang sangat jauh. Bunda, engkau pertama kali menghirup udara dunia mayapada ini pada 21 April 1879 di Jepara, di seperempat terakhir abad ke-19. Bunda, dalam bayangan ananda bunda hidup dalam zaman yang sangat sulit. Zaman dimana hanya setengah abad jaraknya dari sebuah perang besar yang dikobarkan oleh yang sama-sama kita muliakan yaitu Pangeran Diponegoro. Perang Jawa yang demikian besar, yang telah membuat pihak musuh mengalami kerugian yang juga begitu besar. Tentu masa-masa sesudah itu mereka bermaksud mengembalikan kerugian mereka itu dengan segala cara. Mereka mewajibkan tanam paksa pada bangsa kita. Suatu pola tanam dimana hasil panennya sepenuhnya untuk mereka. Mereka yang datang dari belahan dunia lain, yang mempunyai kulit berwarna putih, yang selalu pongah, yang selalu merasa bahwa merekalah yang paling beradab. Tapi biarlah itu sudah menjadi kehendak perjalanan sejarah.
Bunda, kini bangsa kita sudah merdeka. Kaum perempuan yang bunda perjuangkanpun sudah menikmati wanginya aroma kebebesan. Namun ananda merasa bahwa banyak yang salah sangka dengan apa yang menjadi gagasan bunda. Surat bunda yang berjudul “Dirudung cita- cita, dihambar kasih sayang” dimaknai sebagai harapan bunda akan pertolongan dari luar. Jadilah kini bangsa kita kembali tidak cukup percaya diri. Mereka lebih suka menjalani program orang lain ketimbang program bangsa kita sendiri. Surat ini juga dimaknai sebagai keinginan bunda sebagai perempuan Eropa. Padahal tentunya bukanlah demikian yang bunda inginkan. Bunda tetaplah berkeinginan menjadi wanita muslimah Jawa, yang punya keinginan kuat memahami pesan-pesan kitab sucinya.
Ananda teringat dialog bunda dengan seorang ulama bernama Kyai Haji Mohammad Sholeh bin Umar atau simbah Kyai Sholeh Darat ketika mengaji tentang tafsir surat Al-Fatihah. Bunda bertanya, “Kyai, perkenankanlah saya menanyakan, bagaimana hukumnya apabila seorang yang berilmu, namun menyembunyikan ilmunya?” Suatu pertanyaan yang membuat mbah Kyai tertegun.
“Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?” mbah Kyai Sholeh Darat balik bertanya.
“Kyai, selama hidupku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama dan induk Al-Quran yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan buatan rasa syukur hati aku kepada Allah, namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa selama ini para ulama kita melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Quran dalam bahasa Jawa. Bukankah Al-Quran itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?” bunda meneruskan pertanyaan dalam nada menggugat.
Bunda, waktu itu dan mungkin juga sampai dengan hari ini para ulama itu bukannya tidak mengerti. Tapi mereka berada dalam cengkeraman yang mengancam kemandiriannya. Karena itu janganlah terlalu berhadap ada ilmu yang mencerdaskan yang keluar dari ulama yang tidak mandiri tersebut.
Bunda, ananda sangat rindu dengan kehadiran bunda. Menemani ananda dalam mengarungi luasnya samudera permasalahan kehidupan. Memandang wajahmu cukup memberikan sedikit kedamaian. Biarlah orang salah sangka dan salah menduga dengan kalimatmu “…Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu..”
Bunda, di usiamu yang masih begitu belia — hanya 25 tahun — engkau telah memberikan sumbangan yang begitu besar bagi kemajuan bangsa kita. Engkau telah mewujudkan keinginan mendirikan sekolah bagi para perempuan bumiputera kala itu, justru ketika bunda sudah menjadi seorang istri bupati Rembang pada tanggal 12 November1903.
Last but not least, Bunda telah meninggalkan ananda sebagai seorang syuhadah. Karena pada 13 September 1904 bunda wafat setelah melahirkan seorang anak laki-laki. Harapan dan doa ananda semoga ALLAH terus membimbing orang-orang beriman dari gelap kepada cahaya, Minazh-Zhulumaati ilan Nuur.
Pinggiran Gunung Seribu, Selatan Yogya, April 2012
Salam takzim,

Ananda

Berkah Sholawat

April 27, 2018

Entah ini tulisan siapa. Namun saya mendapatkannya di group WA. Menurut saya layak disimak.

Kisah ini diambil dari Syeikh Husna Syarif, seorang ulama besar di Mesir’, beliau bercerita tentang seorang yang terbelit banyak hutang di tengah kubangan kemiskinannya.

Dulunya dia adalah orang yang sangat kaya raya namun jatuh bangkrut sampai terbelit hutang sana sini. Setiap hari, rumahnya penuh dengan orang yang menagih hutang.

Akhirnya ia terpaksa pergi menjumpai seorang saudagar kaya dan meminjam uang sebanyak 500 dinar.

Saking terkenalnya kebangkrutannya dan sudah banyak hutang sampai-sampai saudagar ini bertanya,
“Kira-kira kapan anda akan melunasi pinjaman ini ?”
”Minggu depan tuan.” jawabnya singkat.

Ia pun berhasil meminjam hutang lalu pulang dengan 500 dinar di genggamannya.
Uang itu segera dia bayarkan kepada orang-orang yang setiap hari datang menagih hutang kepadanya sampai 500 dinar yang ia peroleh itu tidak tersisa sama sekali.

Hari demi hari ia bertambah sulit dan terpuruk kondisi ekonominya hingga tempo pembayaran hutangnya pun tiba.
Saudagar mendatangi rumah si miskin dan mengatakan,

”Tempo hutang anda telah tiba.”
Dengan suara lirih dia menjawab, ”Demi Allah saya sedang tak berhasil mendapatkan apa-apa untuk membayar. Tapi sungguh saya terus berusaha untuk melunasi.”

Saudagar merasa geram lalu mengadukannya ke pengadilan, dan membawanya ke hakim.
Di pengadilan, Hakim bertanya:
”Mengapa anda tidak membayar hutang anda ?”
Dia menjawab, ”Demi Allah saya tidak memiliki apa-apa tuan.”

Karena merasa ini adalah kesalahan si miskin maka hakim memvonisnya dengan hukuman penjara sampai ia bisa melunasi hutangnya.
Kemudian si miskin bangkit dan berkata, ”Wahai tuan Hakim, berilah saya waktu untuk hari ini saja. Saya hendak pulang ke rumah untuk berjumpa keluarga dan mengabarkan hukuman ini sekalian berpamitan dengan mereka, kemudian saya akan langsung kembali untuk menjalani hukuman penjara.”
Hakim meragukannya, ”Bagaimana mungkin, apa jaminannya kau akan kembali besok ?”

Lelaki itu terdiam, tapi seolah mendapat ilham di benaknya. “Rasulullah SAW jaminanku, wahai tuan hakim, bersaksilah untukku jika besok aku tidak kembali maka aku bukanlah termasuk umat Rasulullah SAW.”

Sang Hakim tersentak diam, ia sadar betapa bahayanya jaminan itu jika si miskin bohong.
Hakim berfikir sejenak lalu memilih untuk percaya demi Rasulullah SAW. Hukuman pun ditunda sampai besok.

Sesampainya di rumah, si miskin mengabarkan kondisinya kepada istrinya bahwa esok akan dipenjara. Istrinya bertanya : ”Kok sekarang engkau bisa bebas ?”
”Aku menaruh nama Rasulullah SAW sebagai jaminanku.” jawabnya.

Air hangat menetes dari mata istrinya seraya ia berkata pada suaminya, ”Jika nama Rasulullah SAWyang menjadi jaminan bagimu maka mari kita bershalawat.”
Dan mereka pun bershalawat kepada Rasulullah SAW dengan rasa cinta dan ketulusan yang mendalam hingga mereka tertidur.

Tiba-tiba dalam tidurnya mereka bermimpi melihat Rasulullah SAW. Beliau memanggil nama si miskin seraya berkata, ”Hai fulan jika telah terbit fajar pergilah ke tempat Alim fulan. Sampaikan salamku padanya dan mintalah supaya ia menyelesaikan hutang piutangmu. Jika Alim itu tidak percaya maka sampaikan 2 bukti ini, pertama, katakan padanya bahwa dimalam pertama ia sudah membaca shalawat untukku 1000 kali, dan dimalam terakhir dia telah ragu dalam jumlah bilangan shalawat yang dibacanya. Sampaikan padanya bahwa ia telah menyempurnakan shalawatnya.”

Seketika si miskin terbangun dan terkejut. Tanpa ragu setelah subuh ia pergi menuju rumah sang Alim dan berjumpa dengannya. Tanpa buang waktu si miskin menyampaikan mimpinya, ”Wahai tuan, Rasulullah SAW telah menitipkan salam untukmu dan meminta agar engkau sudi menyelesaikan hutang piutangku.”
Alim bertanya, ”Apa bukti dari kebenaran mimpimu itu ?”
”Kata baginda Nabi, di malam pertama engkau telah bershalawat sebanyak 1000 x dan dimalam kedua anda tertidur dalam keadaan ragu dengan jumlah bilangan shalawat yang telah anda baca. Rasulullah SAW mengatakan bahwa hit

Pisowanan Alit

April 11, 2018

Saya jadi ingat, dulu, sebuah stasiun televisi pernah menayangkan film serial berjudul Judge Bao, Hakim Bao. Seorang hakim yang sangat bijaksana dan harus memutuskan segala perkara. Di film itu, kita saksikan bahwa urusan hukum pun menjadi kebutuhan para arwah. Maka, karena kebutuhan-kebutuhan tertentu, Hakim Bao pun terkadang harus masuk ke jagat arwah untuk memberi keadilan bagi arwah yang membutuhkan. Atau di lain waktu, untuk menanyakan pada para arwah tentang sebuah peristiwa sebelum ia memutuskan sebuah perkara yang sedang di tanganinya di alam dunia.

Demikianlah, Hakim Bao memberi kita contoh—yang sebenarnya terdapat pada berbagai tradisi budaya Timur—betapa hukum atau keadilan tidak saja berkenaan dengan jagat manusia, tetapi juga jagat “yang lain”. Akan tetapi, di zaman sekarang kepedulian hukum dan keadilan bagi “jagat-jagat lain” tidak sebagaimana yang diperlihatkan oleh Hakim Bao tadi. Paling tidak, pelajaran yang dapat diambil adalah kita mesti menyadari bahwa hukum dengan segala formalisme maupun legalitasnya sesungguhnya memiliki kaitan dengan beraneka dimensi jagat dan alam. Bahwa keputusan legal-formal yang dikeluarkan penguasa tidak saja terkait dengan jagat manusia dan kekinian saja, tetapi juga berkait kelak dengan jagat eskatologis atau akhirat.

Temukan pencerahan lanjutannya dalam buku Pisowanan Alit.

Only IDR 30.0000

Hubungi Koperasi Kotamas

WA : +6289601853462

Wahyu Eka Jati

April 29, 2016

Setelah mengadakan pesta perkawinan putrinya, Siti Sundari, dengan Abimanyu, Prabu Kresna menyiapkan putranya itu untuk menempati wilayah Tanjung Anom. Abimanyu sendiri adalah putra dari Arjuna.

Menurut wahyu yang diturunkan padanya, negeri Tanjung Anom akan menemukan kejayaan bila memenuhi beberapa persyaratan, antara lain :

  1. Harus ada Wahyu Ekajati
  2. Harus ada Pusaka Jamus Kalimasada
  3. Harus ada Kembang Wijaya Kusuma
  4. Harus ada pusaka Senjata Nenggala

Apa makna semua itu?

Prabu Baladewa menjelaskan makna dari keempat persyaratan tersebut.

Pertama, Wahyu Ekajati

Secara singkat dijelaskan bahwa wahyu itu adalah kanugrahan. Sedangkan Eka itu maknanya sawiji dan Jati dimaksudkan sebagai kesejatian.

Kedua, Pusaka Jamus Kalimasada

Jamus Kalimasada itu adalah kitab tuntunan kiblat laku kang becik, kiblate wong kang laku utomo. Kitab yang sangat sesuai dengan jiwa kawula muda. Memahami makna pusaka Jamus Kalisada tersebut sama dengan memahami kiblatnya kehidupan dan kematian.

Ketiga, Kembang Wijaya Kusuma

Kembang itu bisa dimaknai sebagai bibit atau calon pemimpin. Sedangkan Wijaya maksudnya adalah unggul. Kusuma maknanya kemampuan dasar atau watak atau bisa juga bermakna trah.

Sebagaimana sudah dipahami oleh banyak orang bahwa memang Abimanyu sejak masih kanak-kanak adalah orang yang rajin tirakat. Sehingga, sebagai hasilnya, tidaklah mengherankan jika ia mempunyai watak dasar atau sifat kepemimpinan yang unggul.

Keempat, Senjata Nenggala

Nenggala atau nugala artinya luku atau bajak sawah. Ini dimaksudkan bahwa pemimpin itu agar tidak hanya memikirkan urusan dalam istana, tapi juga rakyat kebanyakan atau kawulo alit. Kawula alit yang dalam kehidupan sehari-harinya memegang luku dan garu. Kawula alit ini jangan sampai disepelekan sebab mereka itu sakaguru sebuah negara. Tanpa mereka maka tidak akan tegak berdirinya suatu negara.

Berdiam Diri dan Berdialog

September 25, 2015

Kaget. Itulah reaksiku ketika simbah menyelipkan kata “kawan”. Dulu memang kata “kawan” sebagai sapaan banyak digunakan di kalangan aktivis.
“Kok kawan to mbah,” jawabku setengah protes.
“Lho salah? Ya sudah saya ganti dengan ‘ya akhi’ saja.”
“Nggak begitu juga mbah. Saya ini kan cucumu. Tapi ya sudahlah. Sekarang saya yang tanya,” jawabku.
“Silahkan cucuku.”
“Kalau i’tikaf sambil diskusi, bisa nggak?” tanyaku.
“Memang diskusi itu berdiam diri?” simbah balik tanya.
“Nggak. Tapi apakah salah?” protesku.
“Nggak salah. Tapi itu bukan i’tikaf.”
“Ok. Tapi kalau sambil baca buku boleh mbah?” tanyaku lagi.
“Memang baca buku itu berdiam diri?” lagi-lagi simbah balik tanya.
“Bukan. Tapi apa salahnya?” jawabku protes lagi.
“Nggak salah. Tapi itu bukan i’tikaf.”
“Terus ngapain mbah? Semedi? Meditasi?”
“Kalau seandainya saya jawab ‘ya’ pasti kau akan mengatakan itu bukan ajaran agama. Memangnya berdiam diri itu bisa sambil ini sambil itu? Atau kau mengalami kesulitan mengartikan frase ‘berdiam diri’ ?” jawab simbah sambil bertanya.
“Oh ya mbah.”

Selang beberapa saat kemudian.

Duduk di sebelahku seorang perempuan muda. Cantik, serasi dan sedap dipandang mata. Aku dan dia, hanya kami berdua, yang mendengar simbah mbabar apa itu berdiam diri.
“Berdiam diri itu membiarkan hati dan pikiran berdialog,” begitu kata simbah filosofis.
“Apa yang didialogkan mbah?” tanyanya ingin tahu. Saya mengagumi sikap kritis dan dahaga ingin tahunya. Tapi saat yang bersamaan saya jadi bertanya-tanya, haruskah nantinya simbah menulis buku “How to Berdiam Diri?” Haruskah urusan berdiam diri ini menjadi urusan teknis prosedural? Untungnya sebelum jauh saya berkhayal simbah sudah menjawabnya.
“Oh ya. Saya ingin tanya dulu ya. Berapa usiamu Nak?”
“Empat puluh mbah,” jawabnya.
Lagi-lagi saya membatin, “wow awet muda ya”. Tadinya saya pikir masih sekitar dua limaan.
“Junjungan kita baginda Muhammad pada usia itu diangkat menjadi Nabi. Itu rahmat Tuhan yang luar biasa. Rahmat bagi seluruh alam. Namun sayangnya kita tidak lagi punya kesempatan untuk menjadi Nabi,” jawab simbah.
“Lah ya itu mbah. Terus kita bagaimana?” tanyanya lagi. Benar-benar tinggi rasa ingin tahunya.
“Tak mengapa pintu kenabian ditutup. Yang penting jalan keselamatan yang hendak kita tempuh masih terbuka lebar. Tiap hari kita minta jalan selamat. Sluman slumun slamet. Jalan shirotol mustaqim. Pada jalan itu hanya ada empat golongan. Golongan nabiyyin, shiddiqin, syuhadah dan sholihin. Hanya empat itu,” jawab simbah.
“Terus gimana mbah?” Kali ini saya bertanya.
“Ya itu materi dialognya. Kira-kira kita masuk golongan mana,” jawab simbah sambil menatap saya dengan tajam.
“Loh simbah kok galak benar dengan saya?” tanyaku dalam hati

Piyungan, Jelang I’tikaf
@2015

Kenyamanan Hati Nurani

September 25, 2015

Ketika dulu Thomas Hobbes (1588-1679) di Eropa mengumandangkan sesanti HOMO HOMINI LUPUS. Manusia yang satu menjadi serigala bagi manusia yang lain, manusia yang saling memakan. Suatu model manusia yang dalam interaksi sosialnya akan saling curiga dan saling menjatuhkan. Prinsip yang sesuai dengan basis individualisme dan liberalisme yang dibangun Eropa.

Leluhur kita di Nuswantara memilih jalan berseberangan. Adalah Panembahan Senopati ing Alaga Mataram (1582-1600) mengumandangkan HAMEMANGUN KARYENAK TYASING SESAMA. bahwa Nuswantara justru harus membangun masyarakat dan peradaban yang estetik, yakni negeri tempat kenyamanan hati nurani manusia.

Kritik nietzschean digelar ol3h filsuf Jerman Georg Wilhelm Friedrich Nietzsche (wafat 1888). Kritiknya oleh beberapa kalangan disebut sebagai PALU GODAM. Demikian itu karena Nietzsche menghancurkan seluruh rigoritas filsafat eropa hingga ke titik nihil atau nol. Bagi nietzsche model pemikiran eropa sudah tidak lagi manusiawi. Hal ini disebabkan sistematika dan model sains yg dikembangkan eropa sudah menyimpang jauh dr “keindahan” hidup manusia. Ni3tzsche ingin agar semua pengetahuan itu kembali kepaea k3indahannya. Sebagaimana dahulu pernah berkembang di Yunani.