Iman Dan Iman

April 25, 2022

وَا لَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَاٰ مَنُوْا بِمَا نُزِّلَ عَلٰى مُحَمَّدٍ وَّهُوَ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّهِمْ ۙ كَفَّرَ عَنْهُمْ سَيِّاٰتِهِمْ وَاَ صْلَحَ بَا لَهُمْ”

“Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta beriman kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad, dan itulah kebenaran dari Tuhan mereka; Allah menghapus kesalahan-kesalahan mereka, dan memperbaiki keadaan mereka.”(QS. Muhammad 47: Ayat 2)

Ayat ini sangat menarik karena menyebut kata amanu dua kali. Yang pertama amanu yang digandeng dengan amal shaleh. Frase yang sering muncul dalam banyak ayat. Sementara yang kedua amanu yang dirangkai secara langsung dengan bima nuzzila ala Muhammad. Beriman dengan apa yang diturunkan pada Muhammad.

Pertanyaannya kemudian adalah apa yang dimaksud dengan yang diturunkan pada Muhammad ? Secara umum sering dipahami dengan Al Qur’an. Namun demikian bukankah semua yang disabdakan oleh Rasulullah tidak ada yang lain kecuali wahyu jua ? Bahkan sebagaimana dalam surat Yasin, diri beliaupun adalah tanzilal azizirrahim. Terlebih jika dilihat lanjutan ayatnya, “wa huwa alhaqq min robbihim.” Beliau sendiri adalah alhaqq.

Munajat Bersama Kunang-kunang

February 1, 2022

Perlahan Ramadhan kan berakhir

Aku masih membayangkan kala baginda Rasulullah di dalam masjid tanpa atap

Tanpa atap ? Ya tanpa atap

Saat doa dan pujian menembus pintu langit tanpa hambatan

Pun jua saat rahmat dari langit tanpa terhalang

Dimanakah itu kini ?

Tak mengapa

Jika tak kau temui pada megahnya bangunan masjid

Masih ada lembah sungai dan gunung-gunung

Ingatkah kau kala itu

Di malam kemuliaan

Hujan menebarkan rahmat

Beliau tak beranjak

Menikmati rahmatNya membasahi jiwa raga

Memandang langit malam Temaram tanpa bintang dan cahaya bulan

Di bawah bayang bayang pohon

Kunang kunang mengamini setiap nafas nufus anfas tanafas

Terdengar nyaring lewat kerlip cahayanya

Angin berembus pelan

Gemericik air sumber

Ditingkahi aroma dupa

Makbul kabul dan ijabah

Qum, salat didirikan

Kun, tarakun nada’un

Salimna, anzil rahmatuka

Assalammualaika ayyuhan nabi

Isyfa’lana

Subbuhun quddusun

Robbuna, robbul malaikati wa ruh

Kungkum menyambut rahmat bumi langit

Lembah Krapyak, 27 Romadhon 1442

Wasilah

December 1, 2021

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَا بْتَغُوْۤا اِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِيْ سَبِيْلِهٖ لَعَلَّـكُمْ تُفْلِحُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah di jalan-Nya, agar kamu beruntung.” (Al-Ma’idah 35)

Dalam ayat ini sangat jelas bahwa perintah untuk wasilah sejajar dengan perintah untuk bertaqwa. Dua hal yang sejajar yang diungkapkan dalm satu kalimat berarti mempunyai bobot urgensi yang sama.Lalu apa itu wasilah ? Sebagian besar mufasir memaknainya sebagai jalan. Tentu saja pemaknaan dengan kata jalan ini tidak sepenuhnya kongruen atau identik 100 persen.

Dalam konteks percakapan sehari-hari, paling tidak ada 3 mode wasilah. Sebagai contoh, jika seseorang ingin bertemu presiden suatu negara, maka mode-mode yang digunakan, pertama, meminta bantuan seseorang yang sudah lebih dahulu kenal dengan presiden untuk mengantarkan.

Namun demikian, tidak selalu demikian. Mode kedua, bisa saja orang yang dijadikan wasilah tidak ikut serta mengantar pertemuan dengan presiden, namun ia menunjukkan jalan dan siapa-siapa yang perlu diajak bicara sebelum bertemu dengan presiden.

Atau mode ketiga, seseorang yang dijadikan wasilah itu karena sudah dikenal baik oleh presiden, maka orang tersebut menjadi bahan pembicaraan awal sebelum masuk ke pembicaraan ini. Inilah yang disebut wasilah dalam praktek keseharian. Dan dalam hal beragama, sebagaimana yang diperintahkan oleh ayat di atas, tampaknya lebih mendekati mode ketiga ini. Saat berwasilah adalah saat “membicarakan” auliaNya di hadapanNya.

Nikmat Tuhan Untuk Kamu (Berdua)

November 30, 2021

Ayat ini di dalam Surat Ar Rahman diulang sebanyak 31 kali.

فَبِاَ يِّ اٰلَآ ءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
(Ar-Rahman)

Namun yang terlupakan dalam memahaminya adalah bahwa nikmat Tuhan yang diungkapkan secara retoris itu untuk kamu berdua. Frase kamu berdua ini menjadi penting untuk ditebalkan karena menyangkut dua mahluk jin dan manusia.

Paralelisme manusia dan jin diungkapkan secara bergantian dalam ayat 14 dan 15. Dan karenanya secara keseluruhan dalam surat ini ditujukan untuk kedua mahluk ini.

Hanya saja, sekalipun paralel, kedudukan manusia tetap jauh lebih tinggi. Karena ungkapan penciptaan manusia disebut lebih dahulu pada ayat 14 dan juga diungkapkan secara khusus pada ayat 2.
Konsekwensinya, manusia itu harus menjadi pemimpin dunia jin.

Empat Wanita Utama pun Menyambutnya

October 21, 2021

Malam itu sangat cerah, terang tanpa mendung. Saat itu sepertiga malam tanggal 12 Robi’ul-Awwal. Sayyid Abdul Mutholib bermunajat kepada Alloh SWT di sekitar Ka’bah. Sementara Sayyidah Aminah sendiri di rumah tanpa ada yang menemaninya.

Saat yang ajaib itu tiba. Sayyidah Aminah melihat tiang rumahnya terbelah dan perlahan-lahan muncul empat orang wanita yang sangat jelita, anggun dan cantik. Cahaya kemilau memancar, pun jua semerbak harum memenuhi ruangan.

Wanita pertama menyapa, “berbahagialah engkau wahai Aminah, sebentar lagi engkau akan melahirkan Nabi yang Agung, Junjungan Semesta Alam. Beliaulah Nabi Muhammad SAW. Kenalkan, aku adalah Hawa istri Nabi Adam AS, ibu seluruh ummat manusia. Aku diperintahakan Alloh untuk menemanimu.”

Kemudian wanita kedua menyampaiakan kabar gembira, “Aku adalah istri Nabi Ibrohim AS yang diperintahkan Alloh SWT untuk menemanimu.”

Begitu pula menghampiri wanita yang ketiga, “Aku adalah Asiyah binti Muzahim yang diperintahkan Alloh untuk menemanimu.” Terakhir, wanita ke empat, “Aku adalah Maryam, ibunda Isa AS datang untuk menyambut kehadiran putramu Muhammad Rosululloh.”

Betapa memuncaknya kedamaian dan kebahagiaan yang dirasakan oleh ibunda Nabi Muhammad SAW. Suatu kebahagiaan yang tidak bisa terlukiskan dengan kata-kata. Sholu ala nabiy

Salam Dari Para Nabi

October 21, 2021

Sayidah Aminah berkata, “Ketika aku mengandung “Kekasihku” Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam, di awal masa kehamilanku, yaitu bulan Rajab. Suatu malam, ketika aku dalam kenikmatan tidur, tiba tiba masuk seorang laki-laki yang sangat elok parasnya, wangi aromanya, dan tampak sekali pancaran cahayanya.

Dia berkata, “Marhaban bika Yaa Muhammad (Selamat datang untukmu Wahai Muhammad)”.

Aku bertanya, “Siapa engkau?”

Ia menjawab “Aku Adam, ayah sekalian manusia”

“Apa yang engkau inginkan?”

“Aku ingin membawa kabar gembira. Bahagialah engkau wahai Aminah, engkau sedang mengandung “Sayyidil Basyar” (Pemimpin Manusia)”

Pada bulan kedua datang seorang laki-laki, seraya berkata, “Assalamu’alaika Yaa Rasulallah (Salam untukmu wahai utusan Allah)”.

Aku bertanya, “Siapa engkau?”

Ia menjawab, “Aku Tsits”

“Apa yang engkau inginkan”

“Aku ingin menggembirakanmu, bergembiralah wahai Aminah, engkau sedang mengandung “Shohibut Ta’wil wal Hadits” (Pemilik Ta’wil dan Hadits)”

Pada bulan ketiga datang seorang laki-laki yang berkata, “Assalamu’alaika Yaa Nabiyallah (Salam untukmu wahai Nabi Allah)”.

Aku bertanya, “Siapa engkau?”

Ia menjawab, “Aku Idris”

“Apa yang engkau inginkan”

“Gembiralah engkau Yaa Aminah, engkau sedang mengandung “Nabiyir Ro-iis” (Nabi Pemimpin)”.

Pada bulan keempat datang seorang laki-laki yang berkata, “Assalamu’alaika Yaa Habiballah (Salam untukmu wahai Kekasih Allah)”.

Aku bertanya, “Siapa engkau?”

Ia menjawab, “Aku Nuh”“Apa yang engkau inginkan”

“Bahagialah wahai Aminah, engkau sedang mengandung “Shohibun Nashri wal Futuh” (Pemilik Pertolongan dan Kemenangan)”.

Pada bulan kelima datang seorang laki-laki yang berkata, “Assalamu’alaika Yaa Shafwatallah (Salam untukmu wahai Sahabat Karib Allah)”.

Aku bertanya, “Siapa engkau?”

Ia menjawab, “Aku Hud”

“Apa yang engkau inginkan”

“Bergembiralah wahai ibu Aminah, engkau sedang mengandung “Shohibusy Syafa’ah fil yawmil Masyhud” (Pemilik Syafaat di Hari persaksian/ Hari kiamat)”.

Pada bulan keenam datang seorang laki-laki yang berkata, “Assalamu’alaika Yaa Rohmatallah (Salam untukmu wahai kasih sayang Allah)”.

Aku bertanya, “Siapa engkau?”

Ia menjawab, “Aku Ibrohim AlKholil”

“Apa yang engkau inginkan”

“Bahagialah engkau Ya Aminah, engkau sedang mengandung “Nabiyil Jalil” (Nabi yang Agung)”.

Pada bulan ketujuh datang seorang laki-laki yang berkata, “Assalamu’alaika Yaa Manikhtaarohullah” (Salam untukmu wahai orang yang telah dipilih Allah)”.

Aku bertanya, “Siapa engkau?”

Ia menjawab, “Aku Isma’il Adz-Dzabih (Yang disembelih)”

“Apa yang engkau inginkan”

“Gembiralah Yaa Aminah, engkau sedang mengandung “Nabiyil Malih” (Nabi yang Elok)”.

Pada bulan kedelapan datang seorang laki-laki yang berkata, “Assalamu’alaika Yaa Khirotallah” (Salam untukmu wahai pilihan Allah)”.

Aku bertanya, “Siapa engkau?”

Ia menjawab, “Aku Musa putra Imran”

“Apa yang engkau inginkan”

“Kabar gembira Yaa Aminah, engkau sedang mengandung “Man Yunzalu ‘alaihil Qur’an” (Orang yang akan diuturunkan padanya Al-Qur’an)”.

Pada bulan kesembilan, yakni bulan Robi’ul Awwal, datang seorang laki-laki yang berkata, “Assalamu’alaika Yaa Rosulallah” (Salam untukmu wahai utusan Allah)”.

Aku bertanya, “Siapa engkau?”

Ia menjawab, “Aku Isa putra Maryam”

“Apa yang engkau inginkan”

“Gembiralah engkau Yaa Aminah, engkau sedang mengandung “Nabiyil Mukarrom wa Rosulil mu’adhom” (Nabi yang dimuliakan dan Rasul yang diagungkan)”.

Syaikh Nawawi Banten, Maulid Ibriz, hlm 17-19.

Dan Sebatang Kurma-pun Berpindah Tempat

September 26, 2021

Abu Dujanah, seorang sahabat dengan kisah yang begitu menyentuh. Setiap hari seusai shalat subuh di masjid Nabi, dia langsung pulang. Seolah tak merasa perlu untuk mengamini do’a yang dipanjatkan oleh Rasulullah. Suatu saat Rasulullah mengajaknya bicara. Beliau menanyakan apa yang terjadi sehingga ia selalu buru-buru pulang setelah sholat subuh. Abu Dujanah cukup lama terdiam seolah tak mampu menjawab pertanyaan Baginda Rasulullah.

“Begini ya Rasulullah,” ia mulai punya keberanian. “Rumah kami berdampingan dengan rumah seseorang. Dalam pekarangan rumahnya, ada satu batang pohon kurma. Dahannya menjuntai ke halaman rumah kami. Setiap kali ada angin bertiup di malam hari, kurma-kurma itu berjatuhan halaman rumah kami.”

Ia kembali diam, pun begitu dengan Rasulullah yang penuh perhatian.

“Ya Rasul, kami keluarga yang tak mampu. Anak-anakku sering kelaparan. Saat mereka bangun, mereka akan mencari makan. Kami bergegas pulang, sebelum anak-anak bangun dari tidurnya. Lalu kami mengumpulkan kurma yang berceceran di halaman kami untuk kami haturkan kepada pemiliknya.

“Saya pernah mendapati mereka sedang mengunyah kurma basah. Mereka telah memungut kurma yang telah jatuh di halaman rumah kami semalam. Mengetahui itu, lalu jari-jari tangan kumasukkan ke mulut anak-anak itu. Kami keluarkan semuanya, tanpa sisa. Saya tak ingin makanan haram itu menyebabkan keluarga kami mendapat siksaan pedih di akhirat kelak,” jelas Abu Dujanah.

“Kami katakan, ‘Nak, janganlah kau permalukan ayahmu ini di akhirat kelak.’ Anakku menangis, kedua matanya meneteakan air mata karena sangat lapar. Wahai Baginda Nabi, kukatakan lagi pada anak, ‘Hingga nyawamu lepas pun, aku tidak akan rela meninggalkan harta haram dalam perutmu. Seluruh isi perut yang haram itu, akan aku keluarkan dan akan aku kembalikan bersama kurma-kurma yang lain kepada pemiliknya’.”

Rasulullah berkaca-kaca, berlinang air mata mendengar pengakuan Abu Dujanah. Butiran air mata mulianya berderai.

Setelah itu, Rasulullah mulai mencari tahu siapa pemilik pohon kurma yang dimaksud Abu Dujanah. 

Nabi Muhammad SAW mengundang pemilik pohon kurma. Beliau bermaksud membelinya. Rasulullah menawar pohon kurma dengan harga yang sangat tinggi.

“Bisakah aku minta kamu menjual pohon kurma itu? Aku akan membelinya dengan sepuluh kali lipat dari pohon kurma itu sendiri. Pohonnya terbuat dari batu zamrud berwarna biru. Disirami dengan emas merah, tangkainya dari mutiara putih. Di situ tersedia bidadari yang cantik jelita sesuai dengan hitungan buah kurma yang ada,” pinta Rasulullah.

Pria munafik itu menjawab dengan tegas, “Saya tak pernah berdagang dengan memakai sistem jatuh tempo. Saya tidak mau menjual apa pun kecuali dengan uang kontan dan tidak pakai janji kapan-kapan.”

Tiba-tiba, Abu Bakar as-Shiddiq nimbrung dan menegaskan langsung melunasi pembayaran pohon kurma tersebut.

“Ya sudah, aku beli dengan sepuluh kali lipat dari tumbuhan kurma milik Pak Fulan yang varietasnya tidak ada di kota ini (lebih bagus jenisnya),” ujar Abu Bakar.

Pria munafik terlihat sangat kegirangan. Dia akhirnya menyerahkan pohon kurma secara simbolis kepada Abu Bakar. Selanjutnya Abu Bakar menyerahkan pohon kurma kepada Abu Dujanah.

Rasulullah kemudian bersabda, “Hai Abu Bakar, aku yang menanggung gantinya untukmu.”

Mendengar sabda Nabi ini, Abu Bakar bergembira bukan main. Begitu pula Abu Dujanah. Sedangkan si munafik berlalu. Dia berjalan mendatangi istrinya, lalu menyampaikan kisah yang baru saja terjadi.

“Aku telah mendapat untung banyak hari ini. Aku dapat sepuluh pohon kurma yang lebih bagus. Padahal kurma yang aku jual itu masih tetap berada di pekarangan rumahku. Aku tetap yang akan memakannya lebih dahulu dan buah-buahnya pun tidak akan pernah aku berikan kepada tetangga kita itu sedikit pun,” ucapnya.

Malamnya, si munafik tertidur pulas. Keesokan harinya dia bangun dan melihat pohon kurma sudah berpindah posisi. Kini berdiri di atas tanah milik Abu Dujanah. Seolah-olah tak pernah sekalipun tampak pohon tersebut tumbuh di atas tanah si munafik. Tempat asal pohon itu tumbuh, rata dengan tanah. Dia keheranan tiada tara. 

Demi Sebuah Penghormatan

September 25, 2021

Agar Tidak Sama Dengan Sulaiman.

Rasulullah SAW, pernah melepaskan Jin Ifrit karena ingin menghormati do’a Nabi Sulaiman.

Sebuah hadits dari Abu Hurairah, “Rasulullah Saw bersabda, ‘Sesungguhnya jin Ifrit telah meloncatiku semalam untuk memutuskan sholatku, maka Allah memberikan kekuatan kepadaku sehingga dapat menangkapnya, lalu aku mencekiknya.

‘Sungguh aku ingin mengikatnya di salah satu tiang masjid, lalu pada pagi harinya kalian semua bisa melihatnya.’

Kemudian beliau bersabda lagi, ‘Namun aku teringat akan doa Saudaraku Nabi Sulaiman, Ya Rabb, anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorangpun sesudahku maka beliau pun melepaskan jin ifrit dalam keadaan hina’.” (Hadis Shahih. HR Bukhari dan Muslim)

Istimewanya Surat Al An’am

September 22, 2021

Al Qur’an diturunkan oleh Allah kepada Rasulullah SAW se ayat demi se ayat. Penurunan itu dilakukan melalui malaikat Jibril seorang diri. Namun demikian berbeda surat Al An’am. Ia diturunkan sekaligus satu surat. Dan bahkan malaikat Jibril diikuti oleh 70 ribu malaikat lainnya ketika membawa surat Al An’am ini.

Keistimewaan lainnya adalah bahwa hanya dengan hapal satu ayat tertentu dalam surat Al An’am ini, maka akan menjadi jaminan di alam kubur bahwa jasadnya tidak hancur dan kain kafannya akan selalu baru. Jaminan ini sama persis dengan jaminan bagi para penghafal Qur’an.

Satu ayat yang menjadi keistimewaan Surat Al An’am ini adalah :

لَا تُدْرِكُهُ الْاَ بْصَا رُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْاَ بْصَا رَ ۚ وَهُوَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ
“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Maha Halus, Maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am : 103)

Autad

September 10, 2021

Surat Al Fajr ayat 10 menyebut “Wa Fir’aun Dzil Autad.” Hanya saja dalam terjemahan versi kemenag, sangat tidak bisa dipahami

dan (terhadap) Fir’aun yang mempunyai pasak-pasak (bangunan yang besar)”

Autad bisa dimaknai sebagai wali. Oleh karenanya, Fir’aun juga mempunyai autad yang masih bekerja hingga akhir zaman.

Sekarang ini perangnya pakai Artificial Intelijen (AI) dan Virus.

AI + Virus –> Saintek

Sainteks ini berkolaborasi dengan Magic. Peta pertarungan Ideologis era abad 20 sudah lewat. Sudah tidak bisa dipakai lagi untuk memahami keadaan akhir zaman. Dari perpaduan saintek and magic ini maka dapat dipahami mengapa Nabi Isa yang diturunkan. Karena beliau adalah Ruhullah.

Lalu, siapakah autad Fir’aun ?

Ayat 11 dan seterusnya menjelaskan itu semua.

Pertama : Togho atau Togog

الَّذِيْنَ طَغَوْا فِى الْبِلَا دِ 

Yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri,”(QS. Al-Fajr 89: Ayat 11)

Kedua : Al Fasad

فَاَ كْثَرُوْا فِيْهَا الْفَسَا دَ 

“Lalu mereka banyak berbuat kerusakan dalam negeri itu,”(QS. Al-Fajr 89: Ayat 12)

Tidak akan mungkin dengan kemampuan umat manusia saat ini mampu melawan. Sama halnya Musa yang tidak mampu melawan Fir’aun. Kemenangan Musa diperoleh setelah ia memasrahkan sepenuhnya kepada Tuhannya. Kemenangan umat masa kini, dituntun oleh empat ayat terakhir surat Al Fajr ini.

Wallahu’alam